SHOPPING CART

close

Hidup Sebatangkara, Effendi Tinggal di Gubuk Kumuh

. SuaraKalimantan.com. Sempat kebakaran dan hidup Tanpa sanak keluarga. Muhamad Efendi, lansia 75 tahun itu hidup sebatangkara disebuah gubuk kecil dan kumuh, yang berlokasi di Jalan Mayjend Sutoyo, Banjarmasin, . Di usia senjanya ia harus terus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri, dengan menjadi tukang pijat keliling. Namun karena adanya pandemi ini, kakek Effendi tidak mendapat penghasilan.

Tidak ada mimpi yang dinginkan Effendi, kecuali bisa makan saat berbuka dan sahur. Ada rasa gelisah dan kesedihan yang menyelimutinya saat waktu berbuka tiba. Diketahui, ia tidak memiliki anak dan istrinya telah lama meninggal dunia. Raut wajahnya berubah ketika tim relawan Rumah Yatim cabang Banjarmasin datang ke kediamannya, pada Rabu (13/5).

  Keperdulian  RAPI Wilayah 02 Kabupaten Banjar Terhadap Korban Bencana Kebakaran Di Sungai Bali Ini Buktinya

“Alhamdulillah beliau senang sekali. Senyum bahagia nya terpancar ketika kami datang ketempat beliau untuk memberikan paket sembao untuk berbuka maupun sahur,” ungkap Lingga, selaku relawan Banjarmasin.

Menurutnya, saat ini kondisinya memprihatinkan. Efendi hanya bisa makan nasi dari beras yang tersisa seadanya. Bahkan jarang menggunakan lauk pauk. Meski demikian, kakek tersebut sangat bersyukur walaupun hanya bisa makan seadanya tanpa lauk pauk saat berbuka atau sahur.

“Beliau untuk makannya, kadang pakai lauk pauk, kadang engga jadi hanya seadanya,” ujarnya

Kendati demikian, Lingga berharap bantuan yang diberikan Rumah Yatim ini dapat menjadi penyemangatnya dalam menjalani ibadah ditengah kesulitan dan himpitan ekonomi yang kian melilit. Kakek Effendi merupakan salah satu lansia dhuafa terkena dampak dan hidup dalam kesulitan akibat wabah corona.

  Mau Tau Cerita Malam Pertama Pernikahan Nenek Dengan Seorang Pemuda Asal Gambut? Yuk Simak Beritanya? 

Effendi merupakan satu dari ribuan orang yang saat ini perlu uluran tangan para dermawan. Sejak wabah pandemi merebak ribuan orang harus hidup dalam keterbatasan yang masuk dalam rentan miskin. Rumah Yatim dalam hal ini terus bergerak memberikan bantuan ifthar dan sahur di 20 provinsi Indonesia. Hingga kini telah disalurkan 40 persen dari target 50.000 penerima manfaat ifthar dan sahur.

 

Kontributor: Calam Rahmat, Staf Humas dari Laznas Rumah Yatim




Tags:

0 thoughts on “Hidup Sebatangkara, Effendi Tinggal di Gubuk Kumuh

Tinggalkan Balasan