SUKU SAMMAH LAKUKAN TRADISI SALEK-SALEKAN SAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Print Friendly, PDF & Email

Kotabaru. Suara Kalimantan.com – Peristiwa unik dilakukan dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan 1440 H, Selasa (06/05/19) menjelang sholat magrib pukul 18.30 wita, bertepatan malam pertama sebelum melaksanakan sholat tarawih.

Salah satu desa yang berada pinggiran pusat kota, disana penduduknya sebagian besar mayoritas mata pencarianya sebagai nelayan, di Desa Rampa Lama Kecamatan Pulau Laut Utara Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan.
Warga masyarakat melakukan kegiatan sambut Bulan Suci Ramadhan dengan melaksanakan tradisi adat tahunan, seperti lampu – lampu kecil yang dinyalakan berbaris panjang di depan rumah warga, lampu yang menyala dikelilingi oleh anak kecil sampai dewasa, mereka sebut (Salek – salekan) artinya lampu – lampu kecil.

Bahan yang digunakan dari jenis botol panilli kecil, minyak tanah, sumbu kompor dipotong kecil, dan lilin.

Salek – salekan dinyalakan pada saat mulai menjelang sholat magrib sampai memasuki sholat isya baru dimatikan dan Salek – salekan ini memang salah satu tradisi secara turun menurun menyambut Bulan Suci Ramadhan, Khususnya Suku Sammah.

Baca Juga:  Bupati Kotabaru Menghadiri Penutupan Satgas TMMD Didesa Subur Makmur

Tradisi ini memang mengandung makna tersendiri karena menurut kepercayaan Suku Sammah, adalah membuka pintu rejeki.

Selain dari menyakalan lampu kecil didepan rumah, dibagian dalam rumah juga dinyalakan, dengan berbagai tempat dilakukan, bahkan dibelakang pintu, diatas tempat air minum, tempat menaruh beras, dibagian lemari pakaian, diatas tempat buat memasak makanan (kompor).

Agar lampu yang ditaruh ditempat itu menjadi suatu berkah yang diberikan oleh Allah Subahanahuatta Alla.

Memang sungguh sangat unik tradisi ini, dari kecil sampai dewasa saling menjaga lampu – lampu kecil yang dinyalakan, agar tetap menyala sampai waktunya dimatikan, dengan sambil bersorak bahagia menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Dengan keadaan sekarang, jaman sudah pada moderen, jadi tradisi adat seperti itu sangat disayangkan sudah berkurang, sebab tokoh adat istiadat Suku Sammah itu tidak diturunkan sepenuhnya pengetahuannya kepada anak cucu mereka, tentang maksud dan tujuan lain dari pengertian salek – salekan.

Ketika salah satu warga Suku Sammah ditemui awak media Suara Kalimantan.com didepan kediamannya mengatakan memang salek – salek ini adalah bahasa kami warga desa rampa, artinya lampu – lampu kecil yang dinyalakan, ini kami lakukan bila tiba memasuki bulan puasa, kalau masalah maksud dan tujuan kami tidak mengetahui sepenuhnya, sebab dari masa kecil kami aja sudah ada tradisi itu, tidak terpikir atau menanyakan kepada orang tua atau pendahulu kami, Intinya tradisi ini tetap kami lestarikan agar anak cucu kami terbiasa dengan tradisi ini. (dam).





Baca Juga:  Ketua APDESI Kotabaru Kritisi Lambatnya Percairan Dana Alokasi Desa

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top