Strategi Jokowi Menaklukkan Lawannya

Print Friendly, PDF & Email

Gambar : Joko Widodo (Presiden Republik Indonesia)

Penulis: redaksi suarakalimantan.com

Ketika Jusuf Kalla pernah bilang “Hancur negara ini kalau dipimpin Jokowi”. Kemudian Jokowi merangkul JK jadi Wakilnya di Pilpres 2014, dalam rangka Memukul lembut dan tak berkutik. JK akhirnya hanya menjadi kerbau ompong dalam kandang Jokowi.

Ketika Ali Mukhtar Ngabalin bilang “pak Jokowi Kurang Gizi, antek Asing dan lain-lain”, Jokowi menampar mulut Ngabalin dengan memberi jabatan, dan sekarang jadi herder Jokowi sebagai jubir istana. Ngabalin menggonggong “Jokowi sebagai wakil Tuhan”.

Ibarat kata, “bila tulang ditaruh di mulut anjing, maka kebenaran hanya keluar dari mulut majikannya”.

Lalu kiai Ma’ruf Amin berfatwa, “jangan taati dan ikuti pemimpin yang ingkar janji”. Maka Jokowi dengan “santun” menjadikan Ma’ruf Amin sebagai Wakilnya di Pilpres 2019 dalam rangka membantai otoritasnya sebagai Ulama, Ketua MUI dan Rais Aam PBNU.

Selanjutnya saat diacara ILC beberapa bulan lalu Prof Dr Yusril Ihza Mahendra (Ketua Umum PBB) bilang, presiden tidak punya Wibawa dan orang luar negeri tahunya presidennya Goblok. Lalu kemudian Yusril diangkat oleh Jokowi untuk dijadikan Loyer nya. Akhirnya Yusril dengan terbuka menyatakan PBB mendukung pencalonan Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia di Pilpres 2019.

Baca Juga:  Pemerintahan Desa Gunung Ulin Menggelar Penerimaan Calon Aparat Desa Sesuai Perda

Tetapi tak semua bisa ditaklukkan Jokowi. Ketika Jokowi menawari “dunia dan seisinya” (uang 1T & posisi Jabatan) kepada Habib Rizieq Shihab (HRS) agar tidak melanjutkan aksi 212 dan tidak mempermasalahkan lagi kasus Ahok si penista agama, HRS dengan tegas menolaknya.

Akibatnya HRS difitnah dengan berbagai kasus Keji (Chat Mesum dll), diintimidasi dan ber-kali2 percobaan Pembunuhan (di tembak, peledakan mobil dg bensin). Lalu HRS terpaksa untuk sementara Hijrah ke Arab Saudi.

Buat orang-orang yang berakal sehat, berpendidikan dan tidak buta mata hatinya, silakan Anda memilih, “Dengan siapa dan kemanakah seharusnya kita mengikuti …?”

“Ditipu pemimpin, itu adalah penyesalan, tapi mempertahankan pemimpin penipu, itu adalah kebodohan”.

Subhanallah… ini fakta yang publik saat ini mengetahuinya…

???





Tinggalkan Balasan

Scroll to Top