Rabu, Desember 12Menyuarakan Suara Rakyat Kalimantan

Jembatan Ambruk, Arus Palangka Raya, Timpah – Pujon Terhambat

SUAKA – . Hujan deras yang terjadi pada Jum’at (9/11/2018) sekitar pukul 23:00 Wib jembatan yang merupakan penghubung dari Palangka Raya, Timpah – Pujon, Buhut, Provinsi Kalimantan Tengah ambruk.

loading...

Jembatan penghubung tersebut terletak di Timpah Pujon di Desa Lungku Layang Kecamatan Kapuas Tengah Kabupaten Kuala Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.

Menurut Iyan salah satu warga sekitar, ambruknya jembatan penghubung tersebut di akibatkan hujan deras. “Malam Sabtu (9/11/2018) tadi hujan sangat deras, dan sekitar pukul 11 malam (malam Sabtu) terdengar suara keras, brak, brak. Disaat kami lihat ternyata jembatan itu ambruk” ujar Iyan seraya menunjuk ke arah jembatan yang ambruk berkata kepada wartawan suarakalimantan.com, Minggu (11/11/2018).

Salah satu sopir taxi rental menyatakan, ambruknya jalan penghubung Timpah – Pujon ini membuat aktifitas pengguna jalan sangat terganggu, “ini Alhamdulillah rakit penyebarangan sudah dibikinkan, namun secara jujur biaya penyeberangan terlalu mahal. Sekali nyeberang untuk sebuah mobil kami harus mengeluarkan duit sebanyak Rp 200.000,- (Dua Ratus Ribu Rupiah),” ujarnya minta namanya tidak perlu disebutkan.

Ia mengharapkan, daerah secepatnya tanggap untuk memperbaiki jembatan tersebut, “Paling tidak, tolonglah dibikinkan jembatan darurat dulu,” harap nya.

loading...

Direktur Eksekutif Lembaga Kerukunan Masyarakat Kalimantan (LEKEM KALIMANTAN) Aspihani Ideris menyatakan, ambruknya jembatan penghubung dari Palangka Raya, Timpah – Pujon Kalimantan Tengah ini harus secepatnya di atasi, pasalnya menurut Aspihani, jalan tersebut merupakan jalan alternative menuju daerah Pujon, papar Aspihani di lokasi jembatan ambruk tersebut saat di minta tanggapannya oleh awak media suarakalimantan.com, Minggu (11/11/2018).

Tokoh aktifis Kalimantan ini mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Kuala Kapuas benar-benar serius merespons perbaikan jembatan ambruk tersebut, “Nunggu antrian untuk menyeberang saja mencapai 4 jam, baru dapat giliran. Dan ini jelas sangat berdampak pada perekonomian masyarakat, karena mengakibatkan terhambatnya aktifitas arus bulak balik masyarakat. Dari itu kami berharap pemkab secepatnya membuatkan jembatan darurat sebelum perbaikan permanen jembatan tersebut dilaksanakan,” ujar Aspihani.

Pantauan awak media ini, antrian mobil untuk menyeberang di rakit tradisional yang dibikin masyarakat sudah mencapai 200 meter. Dan panjang jembatan yang ambruk tersebut sekitar 22 meter. Biaya jasa penyeberangan untuk pejalan kaki sekali jalan Rp 10.000,00 per orang, dan untuk sebuah sepeda motor Rp 50.000,00 sedangkan untuk sebuah mobil sekali nyeberang Rp 200.000,00. (m@nuparyadi)

Bagikan via:

Tinggalkan Balasan

error: Maaf dilarang mengcopy-paste!