Era Globalisasi, Puluhan Media Online Hadir di Kalsel

Print Friendly, PDF & Email

SUAKA-BANJARNASIN. Di massa era globalisasi membawa arus internet ke Indonesia. Seiring waktu peningkatan laju pengguna internet dan kemajuan tehnologi dimasa kini menghadirkan tawaran baru yang serba instan dalam menikmati sarana informasi, yakni media online. Hal ini dipaparkan oleh Pendiri / founder media suarakalimantan.com, H Aspihani Ideris SAP SH MH, Senin (23/04/2018) di AW Duta Mall Banjarmasin.

Karena dengan media online, menurut Ketua Advokasi Hukum Ikatan Wartawan Online (IWO) Kalimantan Selatan ini, para penggila informasi dengan cepat mendapatkan kabar / berita. Mereka tersebut mendapatkan informasi dari penyebaran berita media online yang setiap detik sudah bisa di askes dengan cepat. Karena dengan kecanggihan tekhnologi saat ini menjadikan subuah kebutuhan masyarakat mengharuskan dirinya memiliki handphone dalam saku kesehariannya, ujar Aspihani kepada wartawan suarakalimantan.com.

Bisa dikatakan, saat ini Indonesia merupakan sebuah negara “raksasa teknologi digital Asia yang sedang tertidur“. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa adalah merupakan sebuah pasar yang sangat besar. Pengguna smartphone Indonesia juga dapat tumbuh dengan pesat dibuatnya. Kita petnah membaca, lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.

Baca Juga:  Merasa Janggal Pemberhentiannya Sebagai Sekdako, Hamli Lapor Ke Ombudsman Kalsel

Dari sinilah menurut tokoh LSM Kalimantan ini, salah satu dampak penyebab media online dapat berkembang sangat pesat di Indonesia. Sejarah mencatat, kata Aspihani, media online pertamakalinya yang lahir di Indonesia adalah republika.co.id yang didirikan pada 17 Agustus 1994. Menyusul kemudian pada 1996 lahir media online tempointeraktif.com yang sekarang menjadi tempo.co.id. Lahirnya media online tempo.co.id tersebut lantaran media cetaknya dibredel pemerintah orde baru.

Sementara untuk Kalimantan Selatan, media online berkembang tidak begitu lama setelah media online nasional berkembang. Seiring munculnya media online nasional memicu bermunculannya media online di Kalimantan Selatan. Bahkan, kini sudah puluhan media online lokal hadir di Kalsel yang sudah tumbuh dan berkembang. Seiring, laju perkembangan media online tersebut menjadikan kekhawatiran akan berdampak pada matinya industri media cetak, dengan alasan masyarakat akan memilih membaca berita yang sifatnya update, tercepat dan tentunya gratis. Faktanya ada beberapa koran di Kalsel yang sudah mati, diantaranya Dinamika Berita, Serambi Ummah, Sinar Kalimantan, Suara Kalimantan dan Media Kalimantan.

Baca Juga:  Perjuangan Gambut Raya Sejak 1998 Tak Pernah Pupus Semangat

Namun itu bukan menjadi alasan utama bahwa online mengancam keberadaan koran, karena jauh sebelum media online lahir, media televisi juga telah menyaingi koran dengan kecepatan yang bisa saja lebih cepat dari media online. Bisa dibayangkan media televisi memiliki program LIVE pada pristiwa tertentu. Tentu saja ini jauh lebih unggul dari pada online yang harus mengetikkan berita dan dikirim ke meja redaksi melalui sarana internet yang tersedia. Selain itupula di Kalsel ini sudah tumbuh beberapa stasiun televisi, selain TVRI juga lahir pertelevisian lokal, seperti TV-B, Banjar TV, Duta TV, dan Kompas TV, serta beberapa TV Kabel, papar Dosen Fakultas Hukum UNISKA ini.

Saat itu koran tidak menganggap televisi sebagai rivalitas yang tangguh, mengapa saat media online lahir dianggap menjadi momok yang menakutkan dan dianggap sebagai biang kehancuran? Padahal kita tidak bisa menutup mata bahwa di era globalisasi inilah yang membawa perubahan pada peminat pembaca sebagai alat media informasi. Sementara media online hanyalah bagian terkecil dari sel globalisasi itu sendiri. Bahkan media online memiliki musuh yang sangat mematikan, yakni munculnya media hoax yang setiap saat kerapkali sulit dibedakan masyarakat.

Baca Juga:  Ucapan Amien Rais Bentuk Intimidasi Politik

Didampingi rekan-rekannya, Aspihani memaparkan, saat ini tercatat media online di Kalimantan Selatan sudah mencapai puluhan media, yakni diantaranya adalah media online suarakalimantan.com, kalsel.antaranews.com, jejakrekam.com, kumparan.com, banuapos.com, saluran18.com, redaksi8.com, jurnalisia.net, suaraborneo.com, habarkalimantan.com, redkal.com, metrapol.com, teras7.com, sentral14.id, wartaniaga.com, sinarpagibaru.com, banjarmasin.tribunnews.com, koranbanjar.net, klikkalimantan.com, kanalkalimantan.com, abdipersadafm.co.id, infobanua.co.id, kemajuanrakyat.com, instagram.com dan mediapublik.com.

Media online di Kalimantan Selatan berkembangnya sudah tak terbendung lagi dan jika kita berbicara jujur sudah dapat mengalahkan pemberitaan di koran. Bahkan di Kalsel ini ada sebuah media online yang perkembangan nya sangat cepat dan bahkan dalam pemberitaannya bisa dibilang sangat cepat sehingga dapat mengalahkan media online pendahulunya. Media online tersebut adalah jejakrekam.com, media ini dibawah pimpinan seorang wartawan senior, yakni saudara Didi G. Sanusi. Beritanya setiap menit hadir ditengah pembaca media online, ia hadir bukan sehari satu berita, melainkan setiap jam itu sudah mencapai 10 berita yang sudah mengudara didunia maya dan siap disantap oleh penggila berita dan informasi. (TIM)





Tinggalkan Balasan

Scroll to Top