SHOPPING CART

close

Sejarah Kesultanan Kotawaringin

Oleh: DR. Ali Fadhillah
Di terbitkan oleh : SUARA KALIMANTAN
RAJA IX Kesultanan Kotawaringin, Pangeran Ratu Imanuddin pada tahun 1809 pada saat itu memiliki ide untuk memindahkan pusat kerajaan, yaitu dari daerah aliran sungai (DAS) Sungai Lamandau ke DAS Sungai Arut.

Pusat kerajaan baru itu, selesai dibangun pada tahun 1811. Sejak itu ibukota kerajaan Kotawaringin dipindahkan ke Pangkalan Bun yang mana untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan nama Bandar Sukabumi. Sejak itu,  Pangkalan Bun  pada tahun 1811 resmi menjadi ibukota Kerajaan yang kedua.

Situs Pangkalan Bun merupakan area paling kompleks di antara situs-situs pemukiman terdapat di daerah Kotawaringin, karena ia telah menjadi obyek perluasan kota modern. Meskipun demikian, sisa-sisa bangunan dan beberapa kelompok pemukiman tua dapat memberi gambaran tentang peranan penting kota itu pada awal abad XIX, ketika ia menjadi ibukota kedua kerajaan Kotawaringin.

loading...

Ruang kota dahulu terbagi ke dalam beberapa kampung yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Kelompok pemukiman utama disebut Kampung Raja, dan secara administratif terletak di dalam Desa Raja. Nama itu diberikan untuk menyebut titik pusat kota sekitar kompleks Keraton Kuning Indera Kencana.

Tempat ini merupakan jantung kota Pangkalan Bun berawal sejak abad ke XIX. yang mana disana terdapat beberapa indikasi kegunaan kota seperti keraton, kediaman pejabat kerajaan, alun-alun, kompleks makam raja, masjid raya, pelabuhan serta pasar.

Semuanya telah mengalami transformasi yang disebabkan oleh pertumbuhan kota yang sangat cepat. Namun indikator situs kota tua masih dapat diidentifikasi berkat peninggalan-peninggalan bangunan dan toponim yang memusat di sekitar Kota Pangkalan Bun.

Citra kota sungai Pangkalan Bun ditandai oleh keberadaan pasar dan masjid di sebelah selatan Alun-Alun, tepat di tepian timur Sungai Arut, di situlah sekarang terdapat pusat transaksi perekonomian.

loading...

Mungkin zona ini dahulu sebagai pasar utama kerajaan yang meluas sepanjang tepian sungai. Selain pasar, ada juga dermaga di mana datang dan perginya perahu-perahu yang mengangkut penumpang dan barang dagangan. ###

Bagikan via:
loading...
Tags:

0 thoughts on “Sejarah Kesultanan Kotawaringin

Tinggalkan Balasan

  • Popular
  • Most Comments
  • Lastest
2019 Jalan Sungai Durian Menuju Simpang Empat Banian Akan Kembali Di Tingkatkan
Kapuspenkum Kejagung Tegaskan Kasus Kunker DPRD Banjar Tetap Proses Hukum
Satpol PP Tangkap dan Gunduli Dua Anak Punk
LEKEM KALIMANTAN Menduga, Proyek Gedung Laboratorium Sains dan Teknologi Tala Bermasalah
Ketum KIB Saran Bentuk TIM Kasus 98 & Sambut Baik Bentuk TIM Tuntaskan Kasus Novel
Tersiar Khabar Ayam Mati Akibat Vaksinasi, Kementrian Turunkan Tim Investigasi Ke Sinjai
Melalui Program (JMS) Kejari Kapuas Berikan Penyuluhan dan Penerangan Hukum dikalangan Pelajar
Refleksi Ibadah Bersama ASN, Sarmi Papua Aman dalam Lindungan Tuhan
Kemendiknas Tindaklanjuti surat edaran KadisdikBud Prov. Kalsel, Tentang Unas Thn 2018 – 2019.
Kemensos: Agar Kegiatan Bantuan Tepat Sasaran
Cek Data Sebagai Pemilih di Pemilu 17 April 2019
Di Makkah Habib Rizieq Shihab Do’akan, Ustadz Arifin Ilham Kondisinya Membaik
Kebakaran, Langgar Bintang Panglima Batur Juga Di Lalap Api
Wakil Ketua DPRD Tanbu Angkat Bicara Terkait Rusaknya Jalan Penghubung Dua Desa di Satui
Pemkot Jakbar Gandeng Team Jatanras Polres, Amankan HBKB kota Tua
Moeldoko Minta Relawan Jokowi Pasang Baliho Jokowi-Ma’ruf Amin
Rifka Jaya Soroti Merosotnya Perekonomian Di Era Presiden Jokowi
Warga Keluhkan Jalan Penghubung di Satui Kalsel Rusak Berat
Soroti Polemik Hi-Tech Mall Surabaya, APTIKNAS JATIM Siap Berkontribusi
Kapolresta Minta Maaf Atas Pengusiran Wartawan Saat Meliput Berita
error: Maaf dilarang mengcopy-paste!
%d blogger menyukai ini: