Senin, Desember 10Menyuarakan Suara Rakyat Kalimantan

Banyak Kader Membelot, Elit Demokrat Tak Perlu Kebakaran Jenggot

JAKARTA – Elit Partai Demokrat tidak perlu marah atas banyaknya kader Partai di daerah yang secara terang-terangan membangkang keputusan DPP Partai karena bergabung mendukung calon presiden (capres) Jokowi-Ma’ruf Amin.

Bahkan, elit Demokrat disarankan tidak perlu kebakaran jenggot apalagi sampai menuduh yang bukan-bukan kepada pihak lain.

loading...

“Berpindahnya para politisi atau kepala daerah dari satu partai kepartai lain sudah lazim sesuai kenyamanan yang mereka rasakan. Misalnya, apakah Andi Arif sebelum berlabuh di Demokrat pernah di partai lain?. Jadi teman-teman saya petinggi Demokrat tidak perlu terlalu risau bahkan kebakaran jenggot atas banyaknya kader yang merapat ke kubu Jokowi,” kata Ketua umum Relawan Jokowi (ReJo) HM Darmizal MS dari Solo, saat dikontak wartawan Sabtu (29/8/2018).

Kemarin, Wakil Sekjend (Wasekjend) Partai Demokrat Andi Arief melalui akun twitternya menyerang Jokowi dan Partai NasDem lantaran Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Utara (Sulut) Vicky Lumentut lebih memilih bergabung dengan Partai yang mendukung Jokowi itu.

Sorenya, Ketua umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui twitternya langsung meminta maaf kepada Jokowi dan Partai NaeDem atas ulah Andi Arief itu.

Menurut Darmizal yang pernah menjadi Wasekjend dan Pimpinan Komisi Pengawas Partai Demokrat ini, permintaan maaf SBY ke Jokowi dan Jaksa Agung M. Prasetyo adalah pilihan yang tepat sebagai pengejawantahan dari fatsun berpolitik bijak dan santun yang telah menjadi ikon SBY selama ini.

loading...

Ditambahkan Darmizal, penyebab terbelahnya suara kader Demokrat di daerah merupakan bentuk adanya ketidaknyamanan para kader itu dengan keputusan DPP.

“Banyak hal penyebabnya. Misalnya, Pak SBY yang terkenal santun, maka arahannya kader Demokrat berpolitiklah santun, cerdas dan solving problem, namun berbagai ungkapan kader dengan narasi keras bahkan cenderung kasar diluar kepatutan justru bertebaran diberbagai media. Hal ini merugikan dan membingungkan. Sehingga kader didaerah menjalankan keyakinan kata hati mereka,” jelasnya.

Penyebab lain, Darmizal menduga Demokrat semakin “ditinggalkan” kadernya lantaran DPP memilih mendukung Prabowo dalam Pilpres 2019. “Ini perlu dicermati,” ujarnya.

Masih menurut Wasekjend masa kejayaan Partai Demokrat ini, dirinya sudah memprediksi jauh-jauh hari bahwa Partai Demokrat akan terbelah jika tetap ngotot mendukung Prabowo.

“Saya mengira, banyaknya kader Demokrat diberbagai daerah dengan lampu hijau dispensasi untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019 justru menguntungkan partai itu sendiri,” ujarnya.

Terlihat, kata dia, pasca dukungan mereka terhadap Jokowi, peningkatan elektabilitas Partai Demokrat menjadi 6,8 % sebagaimana hasil survey yang terakhir

“Terjadi peningkatan yang lumayan bagus dari sebelumnya. Jokowi effeck memang dirasakan geliatnya oleh kader Partai Demokrat didaerah,” ungkap alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Lebih lanjut Darmizal menjelaskan, untuk menyelamatkan partai pada pemilu 2024, seluruh kader harus punya kreatifitas yang produktif dan bermanfaat, terutama untuk dirinya agar terpilih menjadi anggota Parlemen 2019 sehingga Partai punya nilai tawar pada pemilu berikutnya.

“Kedepan, saya berkeyakinan, akan semakin massif dukungan kader Partai Demokrat bahkan kader partai lain diberbagai daerah kepada apres nomor 01 Jokowi-Ma’ruf Amin. Mereka merasakan manfaat pembangunan oleh Presiden Jokowi yang sedang berjalan cepat dan merata diseluruh tanah air,” pungkas Darmizal. (bip/red)

Bagikan via:

Tinggalkan Balasan

error: Maaf dilarang mengcopy-paste!