Selasa, Agustus 14

Hukum Mandul Di Kalsel Hanya Karena Seorang Haji Isam

SUAKA – . Terlihat di raut wajah Lilik Dewi Purwaningsih sangat tampak bersedih, karena selama 7 tahun lebih, kasus pembunuhan terhadap suaminya belum diselesaikan oleh aparat penegak secara adil. Padahal aktor intelektual nya jelas diketahui oleh para penegak dan hanya satu pelaku eksekutor saja yang di tangkap dan di adili. Itupun pembunuhnya hanya dihukum 4 bulan. Sementara orang yang menyuruh si pembunuh justru bebas tidak tersentuh sama sekali.

Sangat jelas terlihat mata perempuan berusia 50 tahun yang merupakan seorang istri dari almarhum Hadriansyah ini berkaca-kaca saat ditemui awak media suarakalimantan.com usai berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin. Hari itu perempuan setengah abad, yang sehari-harinya tinggal di Tanah Bumbu, sekitar 300 kilometer dari Banjarmasin tersebut, datang ke Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin hanya untuk memeriksakan penyakit radang empedu yang sudah dua tahun terakhir diidapnya.

Lilik Dewi Purwaningsih disaat di tanya oleh awak media suarakalimantan.com tentang perkembangan perkara terbunuh suaminya tersebut, pipinya langsung dibasahi air mata. Tangisan itu bukan karena dadanya yang terus nyeri diterjang radang, namun dia mengaku pedih dan sedih lantaran hingga kini pengaduannya perihal pembantaian terhadap suaminya tujuh tahun silam belum mendapat tanggapan yang memuaskan dari aparat penegak hukum. Padahal, untuk itu, ia sudah mendatangi sejumlah lembaga penegak hukum di NKRI ini.

Pada pertengahan Maret 2017 lalu, misalnya, ia mendatangi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Sebelumnya, ia sudah pula mengadu ke Markas Besar Kepolisian, Komisi Yudisial, dan juga Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum di Jakarta. Kepada sejumlah instansi itu ia serahkan semua bukti-bukti yang ia miliki tentang kasus dan dalang pembunuhan suaminya, yang hingga kini belum tersentuh. Ia berharap, dengan dokumen dan data-data itu, aparat penegak hukum segera meringkus otak pembunuh Hadriansyah, suaminya. “Saya ingin aparat hukum yang mengadili pembunuh suamiku juga ditindak. Masak, hukuman untuk seorang pembunuh hanya tiga sampai empat bulan saja.” papar Lilik Dewi Purwaningsih kepada sejumlah wartawan yang meliputnya saat itu.

Diketahui Hadriansyah, aktivitas sehari-hari juga sebagai guru olahraga seperti Lilik, dia tewas dibantai pada 9 Februari 2004 di sebuah rumah kawannya yang terletak di wilayah lokasi SDN I, Desa Sarigadung, Kecamatan Simpang Empat, Tanah Bumbu. Sabetan golok ke sejumlah bagian tubuhnya membuat nyawa tenaga pengajar tersebut melayang. Pembantaian itu terjadi tak berapa lama setelah guru olahraga itu memprotes kegiatan perusahaan batu bara milik Andi Syamsudin, pengusaha ternama di daerah Kalimantan Selatan, yang lebih dikenal dengan nama Haji Isam dan sekarang menjabat sebagai Ketua Majelis Penasehat Partai (MPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Kalimantan Selatan.

Jika Lilik ngotot meminta dalang pelaku pembunuhan terhadap suaminya ditangkap, itu dikarenakan ia mengaku telah memiliki alat bukti yang dinilainya sangat sahih dan melebihi dari cukup. Bukti itu bukan datang dari sembarang orang, akan tetapi justru dari pelaku pembunuhan itu sendiri, yakni Muhammad Aini alias Culin yang merupakan anak buah Haji Iwan sendiri . “Dimana adilnya penegakan hukum di ini, sejumlah silih berganti semuanya seakan-akan takut dengan Haji Isam. Jika tidak takut, kenapa tidak berani menindak, padahal alat bukti sudah cukup kuat. Kalsel ini sepertinya hukum tajam kebawah dan tumpul keatas,” ujar Lilik berucap dengan tegas.

Dalam pengakuannya itu, Culin bersumpah bahwa dialah yang membunuh Hadriansyah. Ia menyatakan melakukan itu atas perintah Haji Isam. “Kayak apa mun orangnya melawan, Ji?” (bagaimana kalau melawan?). “Selesaikan aja, paling sebiji alat habis?” demikian tanya-jawab antara anak buah dan-bosnya itu, beberapa saat sebelum Culin membunuh Hadriansyah.

Culin mengaku melakukan pembunuhan itu atas perintah dari Andi Syamsudin alias Haji Isam pada 4 Mei tahun lalu. Saat itu ia membeberkannya kepada Gusti Suriansyah, salah satu tokoh pemuda Tanah Bumbu yang bersimpati pada nasib Lilik. Pengakuan itu kemudian dibuat di atas kertas bermeterai Rp 6.000 dan ia tanda -tangani. “Semua rekaman pengakuannya itu ada pada saya,” kata Gusti kepada sejumlah wartawan, Jum’at pekan lalu.

Dalam testimoninya, Culin bercerita, pada hari tewasnya Hadriansyah itu, sebelumnya ia tengah berada di rumahnya. Saat itu warga, termasuk Hadriansyah, tengah gencar-gencarnya berunjuk rasa di jalan eks Kodeco Km 8 RT 6 Desa Sarigadung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu. Tak berapa lama muncul di rumahnya Haji Isam bersama lima karyawannya, yakni Babak, Asyid, Amat, Ansyah, dan seorang lainnya sebagai sopir. Kepada Culin, Haji Isam menyatakan ada seseorang yang menantangnya berkelahi. Pengusaha muda itu meminta Culin meladeni tantangan tersebut. “Pukuli saja,” ujar Culin, menirukan perintah Isam, seperti tertulis dalam dokumen pengakuan.

Dengan menggunakan Toyota Kijang, rombongan Isam tiba SDN Sarigadung. Inilah tempat berkonsentrasinya warga yang tengah berunjuk rasa. Begitu turun dari mobil, Haji Isam langsung berteriak dan menunjuk seseorang. Tanpa pikir panjang, Culin langsung berlari memburu target yang sudah ditunjukkan Haji Isam, yakni Hadriansyah, yang saat itu langsung berlari menyelamatkan diri.

Menurut Culin, dalam aksi kejar-kejaran itu, dirinya sempat membacokkan parangnya ke punggung Hadriansyah. Guru olahraga itu terus berlari masuk rumah dinas seorang guru. Terpojok di sebuah kamar, bapak tiga anak itu dihabisi Culin. Beberapa saat kemudian terdengar letusan senjata api dari luar rumah, disertai teriakan Haji Isam, yang memerintahkan anak buahnya segera pergi dari tempat itu.

Menurut Culin, di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan Sarigadung, Haji Isam memintanya mengakui bahwa dirinya pembunuh Hadriansyah. Culin, terkejut atas perintah itu, langsung bertanya tentang hukuman apa yang akan diterimanya. “Paling hanya beberapa bulan,” kata Culin dalam testimoninya, mengutip jawaban Haji Isam. Culin lantas menyerahkan diri ke Kepala Kepolisian Resor Tanah Bumbu.

“Ramalan” Haji Isam terbukti. Ditahan beberapa pekan, kemudian diajukan ke kejaksaan, lantas pengadilan, belakangan Culin hanya dihukum empat bulan penjara. Rekannya yang lain, Ardi alias Babak, yang turut serta dalam pembunuhan itu, bahkan lebih ringan, hanya dipenjara tujuh hari. Padahal, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, mereka yang terbukti melakukan pembunuhan hukumannya minimal 15 tahun.

Lilik Dewi Purwaningsih yang merupakan janda dari almarhum Hadriansyah sendiri mengaku, dirinya mengharapkan dan menuntut agar otak pembunuh suaminya itu ditangkap dan di adili sesuai dengan hukum yang berlaku. Tapi, ujarnya, kezaliman yang menimpa suaminya, yang ia lihat dengan mata kepala sendiri, telah menyingkirkan semua rasa takutnya. “Saya akan terus menuntut keadilan ini, sampai ajal menjemputku. Hukum wajib ditegakkan, jangan sampai hukum itu tajam kebawah dan tumpul keatas. Penegak hukum wajib berani menegakan kebenaran,” ucapnya kepada wartawan suarakalimantan.com. (TIM)

Bagikan via:

Baca Juga:





3 Comments

Tinggalkan Balasan

error: Maaf dilarang mengcopy-paste!
%d blogger menyukai ini: