Senin, Juni 25

Presiden Pertemukan MUI, PBNU dan Muhammadiyah Bahas NKRI dengan Harga Mati

Ini Hasil Pertemuan MUI, NU dan Muhammadiyah dengan Jokowi

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin saat memberikan keterangan pers usai pertemuan dengan Presiden Jokowi, serta NU dan Muhammadiyah.

SUAKA – JAKARTA. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menyatakan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah serta pihak bersepakat tidak akan memberikan toleransi kepada siapa pun yang memecah belah bangsa NKRI dan wajib membela bangsa NKRI dengan “Harga Mati”. tegasnya saat jumpa pers di Kantor Ke Presidenan Jakarta, siang tadi Selasa (1/11/2016).

KH Ma’ruf Amin mengatakan, pertemuan antara MUI, NU dan Muhammadiyah serta Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bertujuan untuk mempererat hubungan antara Ulama dan Pemerintah. “Beliau mengajak kita untuk menjaga NKRI, Kesatuan dan Persatuan Bangsa Indonesia diutamakan,” kata Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada wartawan.

KH Ma’ruf Amin menambahkan, dalam pertemuan itu Presiden Jokowi juga menjelaskan kepada kalangan ulama yang hadir mengenai kebijakan pemerintah dalam membangun kultur ekonomi, politik dan sosial budaya dan keamanan NKRI diutamakan serta menjelaskan tentang bagaimana pembangunan nasional kita, termasuk konektivitas antar daerah, ujarnya.

Selain itupula Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi isu penistaan yang menyeret calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia meminta publik tetap tenang dan menyerahkan pengusutan kasus itu kepada kepolisian. Apalagi hal itu diyakini sebagai pemicu wacana demo besar pada Jum’at 4 November 2016 akibat ulah Ormas Front Pembela (FPI) saja, berdalih mengawal fatwa MUI, itu tidak benar,  tegas Ketum MUI ini ketika diwawancarai wartawan usai jumpa persnya. 

“Kami imbauan umat muslim jangan terhasut ajakan demontrasi tersebut, pokoknya tetap tenang dan jangan terprovokasi dengan ajakan demontrasi tersebut, karena itu hanya keinginan FPI,” ucap Ma’ruf kepada beberapa wartawan di Istana Kepresidenan, usai pertemuan dengan pimpinan BPNU, pimpinan Muhammadiyah dan Presiden RI. 

Sebagaimana diketahui, Ahok tengah menjadi sorotan karena pernyataannya yang mengutip Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 51 dalam kunjungannya ke Kepulauan Seribu pada September lalu dianggap salah, biarlah beri kesempatan pihak kepolisian melakukan penyelidikan terkait perkara itu, guna menentukan kepastian terhadap Ahok, ujar KH Ma’ruf Amin.

Demo besar Jumat nanti digerakkan oleh FPI, bukan MUI, PBNU dan Muhammadiyah. Mereka menyebut demo itu untuk mendorong kepolisian menghukum Ahok, karena mereka yakini bahwa Ahok bersalah dan bahkan menistakan agama Islam dalam kejadian tersebut, tutup Ketua Umum MUI ini.

Dalam jumpa persnya Wiranto seusai pertemuan dengan pihak MUI, NU dan Muhammadiyah menyampaikan terkait permasalahan aksi demontrasi pada hari Jum’at tanggal 4 November 2016, silakan laksanakan dan itu tidak dilarang selama sesuai dengan aturan yang berlaku, kan aturannya jelas, jumlah masanya berapa, atributnya berapa, namun lakukan dengan damai dan jangan anarkhis serta jam 6  sore sudah harus bubar, ujarnya.

Menko Polhukam ini mengatakan, proses hukum terhadap Ahok masih berjalan hingga kini. Bahkan, kata dia, Ahok telah mendatangi kantor Badan Reserse Kriminal Mabes Polri sebelum dipanggil pihak kepolisian. Ahok pun diperiksa polisi terkait kasusnya tersebut.

Disampaikannya juga bahwa proses hukum dugaan penistaan agama yang telah dilakukan oleh Ahok sudah dilakukan tahap penyelidikan oleh pihak kepolisian, dan pihak kepolisian sedang memanggil beberapa saksi terkait dugaan pelanggaran hukum tersebut, guna memastikan ketetapan hukumnya, dan bahkan sebelumnya Ahok pernah mendatangi Bariskrim untuk diperiksa dirinya sendiri, ujar Wiranto.

Juru bicara sekaligus koordinator lapangan Aksi Demo Besar besaran 4 September 2016 Front Pembela Islam (FPI), Munarman, menyampaikan bahwa, sejumlah tokoh islam turut serta dalam demonstrasi itu, di antaranya Lieus Sungkharisma, Rachmawati Soekarnoputri, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra dan lain-lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, ujarnya.

Munarman, menuturkan bahwa dalam Aksi Demontrasi Besar besaran tersebut nantinya sebagai Korlapnya saya sendiri dan FPI beserta sejumlah tokoh keagamaan berencana menggelar demo besar menuntut pengusutan terhadap Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang kami tuding telah menodai Al-Qur’an Surah Al-Maidah Ayat 51, tegasnya. 

Demo itu akan kami lakukan beserta ribuan umat muslim seusai Shalat Jum’at, 4 November 2016, dengan berjalan kaki dari Masjid Istiqlal Jakarta, menuju Istana Presiden RI.

Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan, menegaskan kepolisian akan mengamankan aksi demontrasi besar pada 4 November 2016. Polisi siap mengerahkan kekuatan besar juga guna menyesuaikan dengan perkiraan jumlah massa yang akan turun ke jalan nantinya.

Karena itu Iriawan meminta masyarakat ibu kota Jakarta untuk tidak khawatir secara berlebihan pada rencana aksi yang dimotori organisasi masyarakat Islam itu.

“Masyarakat enggak usah khawatir lah dengan rencana aksi demo Jum’at (4/11)” kata Iriawan, Selasa (1/11) di Metro Jaya usai bertemu Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono.

Ia juga mengatakan, tak perlu ada libur pada hari tersebut yang bertepatan dengan hari Jumat tersebut.

Iriawan mengatakan, jumlah personel yang disiapkan juga mencapai 20 ribu. Bukan hanya dari Polda Metro Jaya dan Mabes Polri, personel juga didatangkan dari Polda lain di luar Jakarta. (TIM)

Bagikan via:

Baca Juga:





Tinggalkan Balasan

error: Maaf dilarang mengcopy-paste!