Selasa, Agustus 14

Sejarah Kesultanan Kotawaringin

Oleh: DR. Ali Fadhillah
Di terbitkan oleh : SUARA KALIMANTAN
RAJA IX Kesultanan Kotawaringin, Pangeran Ratu Imanuddin pada tahun 1809 pada saat itu memiliki ide untuk memindahkan pusat kerajaan, yaitu dari daerah aliran sungai (DAS) Sungai Lamandau ke DAS Sungai Arut.

Pusat kerajaan baru itu, selesai dibangun pada tahun 1811. Sejak itu ibukota kerajaan Kotawaringin dipindahkan ke Pangkalan Bun yang mana untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan nama Bandar Sukabumi. Sejak itu,  Pangkalan Bun  pada tahun 1811 resmi menjadi ibukota Kerajaan yang kedua.

Situs Pangkalan Bun merupakan area paling kompleks di antara situs-situs pemukiman terdapat di daerah Kotawaringin, karena ia telah menjadi obyek perluasan kota modern. Meskipun demikian, sisa-sisa bangunan dan beberapa kelompok pemukiman tua dapat memberi gambaran tentang peranan penting kota itu pada awal abad XIX, ketika ia menjadi ibukota kedua kerajaan Kotawaringin.

Ruang kota dahulu terbagi ke dalam beberapa kampung yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Kelompok pemukiman utama disebut Kampung Raja, dan secara administratif terletak di dalam Desa Raja. Nama itu diberikan untuk menyebut titik pusat kota sekitar kompleks Keraton Kuning Indera Kencana.

Tempat ini merupakan jantung kota Pangkalan Bun berawal sejak abad ke XIX. yang mana disana terdapat beberapa indikasi kegunaan kota seperti keraton, kediaman pejabat kerajaan, alun-alun, kompleks makam raja, masjid raya, pelabuhan serta pasar.

Semuanya telah mengalami transformasi yang disebabkan oleh pertumbuhan kota yang sangat cepat. Namun indikator situs kota tua masih dapat diidentifikasi berkat peninggalan-peninggalan bangunan dan toponim yang memusat di sekitar Kota Pangkalan Bun.

Citra kota sungai Pangkalan Bun ditandai oleh keberadaan pasar dan masjid di sebelah selatan Alun-Alun, tepat di tepian timur Sungai Arut, di situlah sekarang terdapat pusat transaksi perekonomian.

Mungkin zona ini dahulu sebagai pasar utama kerajaan yang meluas sepanjang tepian sungai. Selain pasar, ada juga dermaga di mana datang dan perginya perahu-perahu yang mengangkut penumpang dan barang dagangan. ###

Bagikan via:

Baca Juga:





Tinggalkan Balasan

error: Maaf dilarang mengcopy-paste!